Contact Information

Theodore Lowe, Ap #867-859
Sit Rd, Azusa New York

We Are Available 24/ 7. Call Now.

Banua6.com, Paringin – Pemerintah Kabupaten Balangan melalui BPBD terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan selama musim kemarau 2026. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Balangan, H. Rahmi, menegaskan penanganan kedua ancaman ini membutuhkan kesiapan dan sinergi seluruh pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, instansi teknis, maupun masyarakat luas.

Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Siaga Bencana Karhutla dan Kekeringan di Aula Benteng Tundakan, Rabu (12/8/2026).

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Balangan hingga 11 Agustus 2026, telah tercatat 17 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 29,7 hektare. Kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Lampihong sebanyak tujuh kejadian. Sementara untuk potensi kekeringan, Kecamatan Batumandi tercatat memiliki sembilan titik rawan, diikuti Halong tujuh titik, Paringin Selatan dan Juai masing-masing empat titik, Awayan dua titik, serta Paringin satu titik.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan pencegahan dan kesiapsiagaan sejak awal. Jangan sampai ketika kejadian sudah membesar, baru kita bergerak,” ujar H. Rahmi.

BPBD Balangan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, antara lain peningkatan patroli di wilayah rawan, penyebarluasan informasi melalui media sosial dan media massa, serta pemasangan spanduk imbauan di 12 titik pada delapan kecamatan. Peran kelompok masyarakat seperti Desa Tangguh Bencana (Destana), Masyarakat Peduli Api (MPA), dan Petani Peduli Api (PPA) juga terus diperkuat sebagai ujung tombak deteksi dini. Posko siaga disiapkan 1×24 jam dengan dukungan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk penanganan cepat apabila terjadi kebakaran. Jika situasi memburuk, BPBD juga telah mengantisipasi pengajuan dukungan helikopter water bombing melalui BPBD Provinsi Kalsel.

Sementara untuk mengantisipasi kekeringan, Pemkab Balangan telah mengajukan bantuan pembuatan sumur bor di 27 titik desa serta dua unit truk tangki kepada BNPB guna menjamin ketersediaan air bersih masyarakat.

H. Rahmi menegaskan upaya ini tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. “Kami mengharapkan masyarakat ikut berperan aktif. Jangan melakukan pembakaran lahan sembarangan, hemat penggunaan air, dan segera laporkan apabila melihat adanya titik api,” pesannya.

“Dengan kesiapsiagaan bersama, kita harapkan risiko bencana dapat ditekan dan masyarakat tetap aman selama menghadapi musim kemarau,” pungkasnya. (dau/sal).

Share:

administrator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *